NAMJA: Bukan Kamu



Oleh: zulie

Alhamdulillah Allah masih menolongku. Menyadarkan diriku dari kekhilafan yang terlalu lama. Dan Allah tak mau aku terlalu lama untuk hanya memikirkan dirinya. Allah mungkin cemburu padaku karena aku hanya memikirkan dirinya saja.
Dia hadir tiba-tiba ketika aku butuh seseorang yang bukan sekedar teman. Dia ada disaat yang tepat menurutku. Tentu saja ini bukan kebetulan belaka, ini takdir Allah. Allah menyuruhku belajar darinya, belajar sakit hati karena cinta yang tak tulus. Awal yang sangat indah untuk gadis sepertiku. Awal yang tak terduga, dia datang dengan sangat indah. Sekalipun dia bilang aku adalah yang ada dihatinya dari dahulu.
Diko namanya. Kita memang sudah kenal lama, namun dia bukanlah orang yang aku bayangankan sebelumnya. Menurutku, dia hanya baik kepadaku karena kita pernah satu perguruan tinggi. Aku bertemu lagi di tempat kerjaku. Walaupun kita tidak sekantor, namun aku dan dia satu gedung dan satu lantai yang  memungkinkan kita selalu bertemu setiap kali datang, istirahat, dan pulang. Aku juga tidak tau mengapa kalau aku dan dia datang selalu bersamaan ke kantor. Sapa dan salamku di lobby pun selalu terjadi setiap pagi. Aku juga bingung mengapa saat ini Diko begitu keren daripada waktu kuliah dulu, hehehe…
Pagi itu, di lobby kantor yang menurutku masih pagi. Karena hari ini aku datang terlalu pagi. Ku tengok jam ditanganku masih menunjukkan pukul 07.00 WIB tepat. Dengan langkah santai aku menuju lift. Menunggu lift terbuka, aku memainkan handphone tanpa melihat sekitar. Dan saat bunyi ‘ting’ aku menengok kearah lift. Tanpa sadar pria itu tersenyum manis kepadaku, Diko dialah pria itu. Hanya diam dan agak kaget, dia pagi-pagi gini sudah sampai kantor. Aku pun tak jadi masuk lift. Dan Diko pun menegurku dengan sangat hangat, aku hanya tersenyum.
“Kamu jadi naik?” Aku kaget, dan baru tersadar dari lamunanku karena terpanah melihat Diko ternyata tampan sekali hari ini.
“Oh iya” kataku enteng.
Dan Diko pun mengajakku untuk sarapan.
Tanpa sadar aku dan Diko begitu akrab. Sering komunikasi walaupun hanya sekedar tanya kabar tapi kami tak ada satupun kata komitmen diantara kami. Berjalan saja sebagai sebagai seorang teman akrab, saling berbagi cerita, jalan bersama teman-temanku dan teman-temannya juga. Tapi dibalik keakrabanku dengannya ternyata ada seorang temanku yang tak menyukaiku dekat dengan Diko.
Aku dan Diko, hari itu janjian untuk pulang bersama. Tapi dihatiku menolak melakukan itu, aku tau setelah lulus kuliah aku jadi sedikit agak cair kepara laki-laki, wajarkah? Sering aku bertanya sendiri kepada diriku. Aku tau kalau Diko pulang lebih awal, karena hari ini banyak dokumen yang harus aku rekap ulang karena dua hari lalu aku tidak masuk, karena sakit. Hufh… aku menghela nafas panjang, kuambil handphoneku untuk mengabarkan kepada Diko bahwa aku kerja lembur dan tak bisa pulang bersama dengan dirinya.
“Ko, aku nga jadi bareng kamu ya… makasih loh ajakannya.” Pesanku singkat.
Diko hanya membalas pesan singkatku dengan lembut, “nggak apa-apa, aku juga pulang agak telat karena ada meeting”.
Aku tak tau dia betul-betul meeting atau tidak. Setelah selesai mengirimkan pesan singkat kepada Diko, aku taruh handphone disamping laptopku yang dari tadi pagi aku kutak-katik. Ternyata dua hari tidak masuk membuatku harus menyelesaikan tugas yang bertumpuk. Ya Allah… ini sama saja, pikir dalam kepalaku. Tak sadar sudah adzan magrib, aku yang kebetulan tidak shalat terus melanjutkan pekerjaanku.
Tiba-tiba temanku menegurku, “Hai, kamu nggak pulang? Udah malem nih. Mau pulang bareng aku.” Suara serak khas Erni.
 “Enggak ahh Er, aku masih banyak yang dikerjakan nih. Kamu duluan ajah.” Jawabku agak malas. “Yasudah” kata Erni sambil melambaikan tangannya.
Aku pun fokus kembali kepada pekerjaanku. Kutengok jam tangan, ternyata sudah jam 19.30 WIB. Aku terkaget dan langsung membereskan kerjaanku dengan segera sambil mengirim pesan singkat untuk Diko. “Diko, kamu masih meeting?”
Tak lama berselang langsung ada jawab dari pesan singkatku, “udah pulang nih, nyonya udah pulang mari saya antar.” Pesan singkat yang meledek.
Aku hanya tersenyum sendiri membaca pesanku. Baru aku keluar kantorku ternyata Diko sudah ada didepan kantor sambil menyambut khas supir pribadi. Aku hanya tersenyum saja.
Kami pun jalan bersama dari lift sampai parkiran tak ada suara dariku. Diko hanya memandangiku saja. Saat dia telah menyalahkan mesin motornya, dia menyuruhku segera naik. Aku hanya mengangguk saja sambil menaiki motornya yang agak tinggi. Tak ada bincang di motor denganku. Tak lama setelah melewati jalan macet, dia baru bertanya, “Kenapa kamu, Sen?”
Aku tak menjawab langsung karena agak bising motor disebelah kami, dia mencoba mengulang kembali pertanyaannya untukku.
Aku menjawab dengan ringan, “Nggak kenapa-kenapa. Memangnya kenapa?” Diko hanya mengangguk saja.
Tiba-tiba Diko agak kencang mengendarai motornya. Aku jadi tersadar dari lamunanku. Dengan cepat aku memegang dengan erat jaket Diko. Dengan agak keras aku memukul punggung Diko. Diko hanya sedikit menegok dan berkata, “aw.” Aku langsung cerewet kepada Diko.
Ku bombardil Diko dengan cepat. “Kamu itu sengaja yah? Mau bikin aku celaka? Ngapain kenceng-kenceng bawa motornya. Punya nyawa banyak? Atau.” Kuhentikan omelanku. Diko hanya terkikik saja.  
Ternyata Diko sadar kalau sejak tadi aku hanya melamun, makanya dia berbuat seperti itu. Sampai juga akhirnya di rumah walaupun dengan kebut-kebutan bersamanya. Aku turun dari motornya tepat di depan rumahku. Aku hanya mengucapkan terima kasih kepada Diko, tapi sepertinya Diko masih ingin tahu mengapa aku seperti ini.
Dia hentikan aku dan bertanya dengan raut wajah yang serius. “Kenapa hari ini Sena?” Aku hanya menggeleng saja.
Diko masih tak puas dengan jawabanku. “Hei” agak keras Diko memanggilku.
Lalu kusegera berbalik dan berkata, “Kenapa sih kamu nanya-nanya terus? Memangnya penting sekali hari ini aku kenapa? Aku tuh capek ajah, Diko. Puas kamu? Terima kasih yah sudah antar aku sampai rumah!” Agak keras suaraku. Diko diam dan hanya mengangguk saja.
Setelah sampai di dalam kamarku, aku merasa menyesal karena membentak Diko. Dengan cepatku kirim pesan suara secara singkat kepada Diko. Agak serak suaraku “Diko maafin aku yah, aku jadi agak keras sama kamu karena hari ini aku sangat lelah, sudah banyak kerjaan diomelin lagi sama atasan aku. Maaf yah, besok pagi sampai kantor pagi yah, aku teraktir deh sebagai permintaan maaf aku. Okeh Diko.” Agak lama Diko membalasnya mungkin dia belum sampai di rumahnya, pikirku. Setelah bersih-bersih dan meletakkan badan dikasur empukku. Kutengok handphone, ada sms balasan dari Diko.
“Wah, senengnya besok aku ditraktir kamu… hehehe, besok aku jemput sekalian deh biar kita sarapan bareng ditempat yang enak nih, aku baru dapat rekomendasi dari temen. Asikk…” balasnya.
Aku balas kembali karena bingung dia tidak marah karena sikapku tadi. “Kamu tidak marah sama aku?”  
Dibalas lagi “tidaklah, senyum dong.” Dismsnya dia berikan emot senyum yang lebar.
Kubalas lagi dengan emot senyum saja.
Tak susangka dibalas lagi dan berkata, “sudah istirahat sana biar besok seger dan senyum selebar emot yang kamu kirim keaku. Bobo dan mimpi indah yah. Malam.”
Kubaca ulang sms dari Diko yang membuatku senyum selebar lebarnya. Entah itu perasaan apa. Aku tidur dengan masih mendekap handphone yang masih membuka sms Diko tadi kirim.
***
Aku terkaget karena Diko sudah sampai didepan rumah dan sedang mengobrol dengan ayahku. Aku siap-siap berangkat.
“Ayoo Diko, sudah siang nih.” Aku mengajak Diko dengan segera sambil pamit dengan ayahku.
Tapi ayah meledekku, “loh ndok kamu toh yang kelamaan dandannya, wong nak Diko dari pagi sudah disini, iya kan nak Diko,” ayah berbicara sambil melirik kearah Diko.
Diko hanya tersenyum saja. Aku malu  mendengarkan perkataan ayahku, tanpa pikir panjang aku menarik tangan Diko agar cepat pergi. Muka masih merah seperti tomat karena diledek oleh ayahku tadi, dan sekarang pun Diko puas meledekku.
Dengan suara yang enteng Diko pun berkata, “Katanya mau traktir aku, Sena”.
Tiba-tiba aku kikuk untuk menjawab pertanyaan Diko, dengan terbata-bata aku menjawabnya, “i…i..iya Ko, mau ditraktir apa?”
Sepertinya Diko sadar kalau aku agak grogi saat ini. “Baiklah, kita makan bubur di tempat biasa aja yah.” Jawab Diko santai.
Berangkatlah aku dan Diko makan bubur ayam yang tidak jauh dari gedung kantor kami. Dan saat itu aku tak banyak bicara, ada perasaan berdegup kencang di hatiku, entah perasaan apa itu. Aku terus beristigfar saja, semoga Allah menenangkan hatiku yang tak menentu ini. Aku tak sanggup lagi berada didalam perasaan seperti ini terlalu lama dengan mencari-cari alasan, aku sengaja melihat jam tanganku dan memberitahu Diko bahwa ada kerjaan yang harus aku persiapkan sebelum meeting pagi ini. Aku izin pamit duluan dan langsung membayar bubur ayamnya. Tak sempatku pikirkan bahwa jarak tukang bubur dengan gedung kantorku agak lumayan jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Diko tersentak kaget, bertanya, “Mengapa terburu-buru?”
Aku hanya menjawab sekenanya saja, “Kan sudah aku kasih tau, aku ada meeting pagi.”
“Yasudah sini aku antar saja, sedikit lagi selesai kok makannya, lumayan loh jalan kaki dari sini.” Katanya enteng.
Aku tak dapat menolak, karena Diko langsung berdiri kearah motor dan menyalahkan motornya. Dengan segera Diko menyuruhku untuk naik. Seperti tersihir aku naik saja. Tiba diparkiran aku bergegas pergi karena perasaanku yang sudah tak menentu ini. Kulambaikan tanganku sebagai tanda perpisahan, Diko hanya tersenyum dari sana. Kupegang jantungku, berdegup lebih cepat dari biasanya. Kucoba tenang agar tak terlihat aneh dihadapan teman-temanku nanti. Mungkinkah ini perasaan itu?
Aku kerja seperti biasa tanpa kata dan dengan sedikit melamun. Sadar tak sadar aku membiarkan kursor di laptopku berkedip lama. Pikiran aku tak karuan. Aku jadi memikirkan Diko. Aku menggelengkan kepala sambil sedikit memberantakan jilbabku. Saat tak karuan itu datang, sms dari seorang senior yang luar biasa yang tau bagaimana perjalanan hidupku.
“Sena, Apa kabar? Bagaimana keluarga kamu?” sms singkat dari Ka Tia yang membuatku tak sangka. Biasanya Ka Tia hanya mengirimiku pesan-pesan motivasi, ya walaupun kadang juga menanyakan kabarku. Yang terkadang aku hanya mendiamkannya atau membalas sekenanya saja. Tapi entah mengapa tiba-tiba ada desir angina dengan pertanya dari Ka Tia. Ka Tia tiba-tiba menanyakan kabarku? Apa dia tau kalau aku sedang memiliki hati yang tak karuan. Aku ingin membalasnya dengan berkata jujur padanya. Tapi lagi-lagi kuhanya membalasnya sekenanya saja. Ada rasa menyesal aku membalasnya.
***
Dan sekarang aku dan Diko jadi makin sering pulang pergi bersama, bahkan kami jalan bersama. Sampai aku berpikir, aku melakukan apa? Aku pacaran dengannya? Tapi tak ada pernyataan cinta dari kami.
Sampai disaat itu, tepatnya di masjid kampus aku bertemu Ka Tia. Senyum sumringah dari wajah hangat Ka Tia yang selalu kurindukan. Pertanyaan-pertanyaan hangat yang selalu ingin aku dengar dari bibir seorang daiyah. Seusai shalat dzuhur, aku berbincang-bincang agak lama dengannya. Sampai aku lupa kalau saat ini aku pergi bersama Diko untuk menghadiri reuni di kampus kami. Mungkin karena handphone ku silent jadi tak mendengar malahan aku asyik berbincang dengan Ka Tia.
Ka Tia bertanya padaku “Kesini bareng siapa? Suami kamu? Kok kakak tak diundang”.
Tak dapat kujawab pertanyaan Ka Tia, mungkin untuk kakak itu aku masih Sena yang dulu. Sena yang tak pacaran, Sena yang tak terlalu suka dekat-dekat dengan kaum adam. Sena yang istiqomah bahkan berakhlak mulia. Tapi Ka Tia salah aku seperti mencair di dunia kerja saat ini, sulit untukku seperti dulu atau mungkin aku saja yang tak punya rasa berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Seperti tahu isi hatiku Ka Tia hanya berkata dengan lembut, “Dek, Allah itu Maha Baik loh, Allah itu tak pernah tidur loh, jika sekarang kamu resah akan dirimu sendiri bahkan bertindak yang tak sesuai dengan hati nuranimu pasti Allah kasih jalan keluarnya, bagaimana caranya hanya Allah yant tahu. Cara Allah itu lebih indah dibandingkan dengan cara kita loh. Jalan sampai memilih jalan yang salah yah dek, ikuti maunya Allah bukan maunya kita. Allah selalu berikan apa yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan. Mungkin menurutNya, kamu belum bisa ditambahkan amanah lagi, Jadi ikuti skrenario Allah saja yah sayang.”
Dia memang selalu tau, aku hanya tersenyum sambil mohon diri. Sejenak aku berpikir namun dibenakku berlalu begitu saja. Aku terhanyut lagi dengan sosok adam yang luar biasa itu, Diko. Aku dan Diko pun pulang. Aku tak menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Ka Tia.

Komentar