Aku ingin
memberikan ibu sebuah gerobak. Rasanya aku ingin meringankan bebannya. Aku
hanya memiliki ibu. Aku hanya tinggal bersama ibu. Ayahku sudah terlebih dahulu
menemui Tuhan. Dan ia mungkin sudah bahagia di sana. Terkadang aku iri dengan
teman-temanku, mereka masih lengkap memiliki orang tua. Ah... tak perlu aku
sesali karena itu semua takdir Tuhan.
Aku mempunyai
keinginan untuk membelikan ibu sebuah gerobak agar ia tak terlalu lelah
memanggul bakulnya yang sudah tua itu. Bakul yang seharusnya sudah dibuang.
Sebenarnya pun bakul itu pemberian tetangga kami. Ibu berdagang pun hanya cukup
untuk biaya sehari-hari kami.
Padahal aku
sudah menawarkan diriku untuk membantunya tapi ibu melarangku, kata ibu tugasku
hanya sekolah dan belajar saja. Ia tak ingin aku hanya tamat SD. Walaupun
rasanya perjalanan pendidikanku masih panjang, tapi ibu yakinkan aku kalau aku
pasti bisa menamatkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi.
Cita-cita ibu
memang sangat luar biasa. Aku bangga mempunyai ibu seperti beliau. Mungkin
dengan aku meraih cita-citaku maka ibu akan bangga kepadaku. Aku ingin
membantunya, aku ingin membuatnya bangga dan aku ingin meringankan bebannya.
Pagi ini sehabis
pulang sekolah, aku berniat mencari uang tambahan untuk membelikan ibu gerobak.
Walaupun aku tak tahu harga sebuah gerobak sayur tapi aku akan berusaha untuk
mengumpulkan uang.
Siang ini
kumulai dengan mencari warung yang memerlukan bantuanku. Aku tahu aku salah
pamitan pada ibu tapi aku ingin memberikan kejutan kepadanya.
“Assalamualaikum
Bu, bisakah aku membantu-bantu di warung ini?” tanyaku pada seorang ibu yang
berada di warung itu.
“Walaikumsalam,
kamu mau bantu-bantu apa?”
“Apa saja, yang
penting aku dapat uang Bu.”
“Ya sudah kamu
sekarang ke dapur, bantuin anak saya nyuci piring.”
“Makasih ya Bu.”
Aku langsung ke
dapur dan membantu anak penjual itu.
Aku bekerja di
sana hanya sampai sore. Dan alhamdulillah, aku diberikan uang bayaran dari ibu
penjual itu. “Nih Dik uangnya, makasih ya sudah membantu saya.”
“Ya Bu, sama-sama.
Makasih ya Bu.”
Aku membawa uang
yang diberikan ibu itu dengan senang hati. Walaupun hanya Rp15.000,- aku
senang. Malam ini aku berniat untuk bekerja membantu rumah makan Uda Faizal.
Tapi sebelum ke sana aku mandi dulu dan pamitan kepada ibuku, walaupun aku
nanti akan berbohong kepadanya.
“Assalamualaikum
Bu.”
Waalaikumsalam,
darimana kamu Nak? Kok jam segini baru pulang?” tanya ibu kepadaku.
“Maaf Bu, tadi
ada pelajaran tambahan. Oh iya aku nanti ingin belajar ke rumah temanku. Mau
belajar bersama Bu.”
“Tapi jangan
pulang malam-malam ya, Nak.”
“Iya Bu.”
Aku langsung
mandi. Sehabis mandi aku sudah mendengar adzan magrib. Buru-buru aku mengambil
air wudhu dan langsung shalat. Sehabis shalat aku pamitan kepada ibu.
Akhirnya aku
sampai juga di rumah makan Uda Faizal. Langsung saja aku ke dapur dan membantu
pelayan yang mencuci piring.
Sudah malam aku
pulang. Tadi sebelum aku pulang aku ke rumah agen koran Pak Dipyo. Aku
diperbolehkan mengambil koran dan menjualnya besok pagi.
Walaupun aku
seorang anak perempuan tapi aku yakin aku akan sekuat anak laki-laki. Pagi
sudah menyambutku dengan kicauan burung. Aku berangkat lebih pagi dari
biasanya. Aku pergi ke rumah Pak Dipyo untuk mengambil koran. Dari rumah Pak
Dipyo aku langsung turun ke jalan menjual koranku. Dan karena aku tak mau
terlambat aku menjual koran-koranku ke daerah dekat dengan sekolahku. Syukurlah
aku tak terlambat.
Pulang sekolah
ini aku ke warung ibu yang kemarin. Tapi tak seperti kemarin ibu ini
menanggapiku. Ia marah-marah denganku entah karena apa.
“Ngapain kamu ke
sini? Mau minta-minta ya!”
Aku hanya diam.
Tubuhku didorong kejalan depan warung tersebut. Aku tak percaya dengan apa yang
dilakukannya. Aku mencoba mendekatinya lagi tapi ibu itu terus marah-marah
kepadaku. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana dan langsung ke rumah makan
Uda Faizal. Diperjalanan aku masih bingung mengapa ibu tersebut seperti itu.
Sekarang aku
bekerja di rumah makan Uda Faizal saja walaupun hanya dapat uang Rp50.000,-
saja tapi aku yakin kalau nanti aku akan dapat membelikan ibu gerobak sayur.
Kemarin tanpa sengaja aku lewat rumah Kang Kohar, seorang pengrajin kayu. Aku
menanyakan kepadanya tentang harga gerobak tersebut. Kata beliau harganya hanya
Rp.300.000,- jika dijual kepadaku. Lalu di rumah aku mulai menghitung yang
sebelum ibu pulang. Ternyata uangku hanya Rp275.000,- berarti uangku kurang Rp43.000,- lagi.
Selama seminggu
aku mencari uang dengan berdagang koran, nyuci piring, dan menjadi pelayan di
rumah makan aku lakukan tapi masih kurang. Kemarim aku ketahuan ibu. Aku
dimarahi olehnya dan aku dilarang kemana-mana lagi oleh ibu. Sepertinya ibu masih marah
denganku.
Pagi-pagi aku
pergi pamitan untuk ke sekolah. Sepulang sekolah aku sudah janjian kepada Pak
Kohar untuk membeli gerobak sayur yang dibuatnya. Aku ke rumah Pak Kohar untuk
menawar harga gerobaknya.
“Pak bisa kurang
dari Rp.300.000,- nggak?”
“Memang kamu
punaya uang berapa?”
“Aku hanya punya
Rp275.000,- boleh nggak?”
“Ya sudahlah
buat anak kecil sepertimu Bapak kasih deh.”
“Makasih Pak”
“Mau sekalian
bapak antar?”
“Ada biaya
antarnya Pak?”
“Tenang saja,
Nggak ada.”
Aku dan Pak
Kohar kerumahku dengan membawa gerobak. Di sana aku sudah melihat ibu. Aku
langsung berteriak kegirangan, “Ibu... Ibu... Aku membawa hadiah untuk ibu.”
Kataku dengan penuh semangat.
Ibuku masih
bingung.
“Gerobak sayur
baru untuk ibu dari Izah anak ibu yang mungil ini.” Pak Kohar menjelaskan.
“Ya ini untuk
ibu dari Izah.” Katakau dengan semangat.
“Ini dari kamu,
Nak? Makasih ya. Ibu bangga dengan kamu.”
Ibu memelukku
dengan erat. Tanpa terasa air mataku terjatuh. Kami bertiga pun jadi menangis.
Pak Kohar pun
pamitan untuk pulang.
Aku menjelaskan
bahwa selama ini aku bekerja untuk membelikan ibu gerobak sayur. Dan aku
meminta maaf kepada ibu karena sudah banyak membohogi ibu. Ibu pun memaafkan
aku dan sekarang ibu berjualan sayur dengan gerobak barunya.
Aku senang
karena membuat ibuku bahagia.
Komentar
Posting Komentar