Cerpen: HADIAH TERINDAH UNTUK IBU



Aku ingin memberikan ibu sebuah gerobak. Rasanya aku ingin meringankan bebannya. Aku hanya memiliki ibu. Aku hanya tinggal bersama ibu. Ayahku sudah terlebih dahulu menemui Tuhan. Dan ia mungkin sudah bahagia di sana. Terkadang aku iri dengan teman-temanku, mereka masih lengkap memiliki orang tua. Ah... tak perlu aku sesali karena itu semua takdir Tuhan.
Aku mempunyai keinginan untuk membelikan ibu sebuah gerobak agar ia tak terlalu lelah memanggul bakulnya yang sudah tua itu. Bakul yang seharusnya sudah dibuang. Sebenarnya pun bakul itu pemberian tetangga kami. Ibu berdagang pun hanya cukup untuk biaya sehari-hari kami.
Padahal aku sudah menawarkan diriku untuk membantunya tapi ibu melarangku, kata ibu tugasku hanya sekolah dan belajar saja. Ia tak ingin aku hanya tamat SD. Walaupun rasanya perjalanan pendidikanku masih panjang, tapi ibu yakinkan aku kalau aku pasti bisa menamatkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi.
Cita-cita ibu memang sangat luar biasa. Aku bangga mempunyai ibu seperti beliau. Mungkin dengan aku meraih cita-citaku maka ibu akan bangga kepadaku. Aku ingin membantunya, aku ingin membuatnya bangga dan aku ingin meringankan bebannya.
Pagi ini sehabis pulang sekolah, aku berniat mencari uang tambahan untuk membelikan ibu gerobak. Walaupun aku tak tahu harga sebuah gerobak sayur tapi aku akan berusaha untuk mengumpulkan uang.
Siang ini kumulai dengan mencari warung yang memerlukan bantuanku. Aku tahu aku salah pamitan pada ibu tapi aku ingin memberikan kejutan kepadanya.
“Assalamualaikum Bu, bisakah aku membantu-bantu di warung ini?” tanyaku pada seorang ibu yang berada di warung itu.
“Walaikumsalam, kamu mau bantu-bantu apa?”
“Apa saja, yang penting aku dapat uang Bu.”
“Ya sudah kamu sekarang ke dapur, bantuin anak saya nyuci piring.”
“Makasih ya Bu.”
Aku langsung ke dapur dan membantu anak penjual itu.
Aku bekerja di sana hanya sampai sore. Dan alhamdulillah, aku diberikan uang bayaran dari ibu penjual itu. “Nih Dik uangnya, makasih ya sudah membantu saya.”
“Ya Bu, sama-sama. Makasih ya Bu.”
Aku membawa uang yang diberikan ibu itu dengan senang hati. Walaupun hanya Rp15.000,- aku senang. Malam ini aku berniat untuk bekerja membantu rumah makan Uda Faizal. Tapi sebelum ke sana aku mandi dulu dan pamitan kepada ibuku, walaupun aku nanti akan berbohong kepadanya.
“Assalamualaikum Bu.”
Waalaikumsalam, darimana kamu Nak? Kok jam segini baru pulang?” tanya ibu kepadaku.
“Maaf Bu, tadi ada pelajaran tambahan. Oh iya aku nanti ingin belajar ke rumah temanku. Mau belajar bersama Bu.”
“Tapi jangan pulang malam-malam ya, Nak.”
“Iya Bu.”
Aku langsung mandi. Sehabis mandi aku sudah mendengar adzan magrib. Buru-buru aku mengambil air wudhu dan langsung shalat. Sehabis shalat aku pamitan kepada ibu.
Akhirnya aku sampai juga di rumah makan Uda Faizal. Langsung saja aku ke dapur dan membantu pelayan yang  mencuci piring.
Sudah malam aku pulang. Tadi sebelum aku pulang aku ke rumah agen koran Pak Dipyo. Aku diperbolehkan mengambil koran dan menjualnya besok pagi.
Walaupun aku seorang anak perempuan tapi aku yakin aku akan sekuat anak laki-laki. Pagi sudah menyambutku dengan kicauan burung. Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku pergi ke rumah Pak Dipyo untuk mengambil koran. Dari rumah Pak Dipyo aku langsung turun ke jalan menjual koranku. Dan karena aku tak mau terlambat aku menjual koran-koranku ke daerah dekat dengan sekolahku. Syukurlah aku tak terlambat.
Pulang sekolah ini aku ke warung ibu yang kemarin. Tapi tak seperti kemarin ibu ini menanggapiku. Ia marah-marah denganku entah karena apa.
“Ngapain kamu ke sini? Mau minta-minta ya!”
Aku hanya diam. Tubuhku didorong kejalan depan warung tersebut. Aku tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Aku mencoba mendekatinya lagi tapi ibu itu terus marah-marah kepadaku. Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari sana dan langsung ke rumah makan Uda Faizal. Diperjalanan aku masih bingung mengapa ibu tersebut seperti itu.
Sekarang aku bekerja di rumah makan Uda Faizal saja walaupun hanya dapat uang Rp50.000,- saja tapi aku yakin kalau nanti aku akan dapat membelikan ibu gerobak sayur. Kemarin tanpa sengaja aku lewat rumah Kang Kohar, seorang pengrajin kayu. Aku menanyakan kepadanya tentang harga gerobak tersebut. Kata beliau harganya hanya Rp.300.000,- jika dijual kepadaku. Lalu di rumah aku mulai menghitung yang sebelum ibu pulang. Ternyata uangku hanya Rp275.000,-  berarti uangku kurang Rp43.000,- lagi.
Selama seminggu aku mencari uang dengan berdagang koran, nyuci piring, dan menjadi pelayan di rumah makan aku lakukan tapi masih kurang. Kemarim aku ketahuan ibu. Aku dimarahi olehnya dan aku dilarang kemana-mana  lagi oleh ibu. Sepertinya ibu masih marah denganku.
Pagi-pagi aku pergi pamitan untuk ke sekolah. Sepulang sekolah aku sudah janjian kepada Pak Kohar untuk membeli gerobak sayur yang dibuatnya. Aku ke rumah Pak Kohar untuk menawar harga gerobaknya.
“Pak bisa kurang dari Rp.300.000,- nggak?”
“Memang kamu punaya uang berapa?”
“Aku hanya punya Rp275.000,- boleh nggak?”
“Ya sudahlah buat anak kecil sepertimu Bapak kasih deh.”
“Makasih Pak”
“Mau sekalian bapak antar?”
“Ada biaya antarnya Pak?”
“Tenang saja, Nggak ada.”
Aku dan Pak Kohar kerumahku dengan membawa gerobak. Di sana aku sudah melihat ibu. Aku langsung berteriak kegirangan, “Ibu... Ibu... Aku membawa hadiah untuk ibu.” Kataku dengan penuh semangat.
Ibuku masih bingung.
“Gerobak sayur baru untuk ibu dari Izah anak ibu yang mungil ini.” Pak Kohar menjelaskan.
“Ya ini untuk ibu dari Izah.” Katakau dengan semangat.
“Ini dari kamu, Nak? Makasih ya. Ibu bangga dengan kamu.”
Ibu memelukku dengan erat. Tanpa terasa air mataku terjatuh. Kami bertiga pun jadi menangis.
Pak Kohar pun pamitan untuk pulang.
Aku menjelaskan bahwa selama ini aku bekerja untuk membelikan ibu gerobak sayur. Dan aku meminta maaf kepada ibu karena sudah banyak membohogi ibu. Ibu pun memaafkan aku dan sekarang ibu berjualan sayur dengan gerobak barunya.
Aku senang karena membuat ibuku bahagia.

Komentar